Halaman

Minggu, 04 Desember 2022

Bekasi Tak Seperti Dulu lagi

Hi Sobat!

Lama juga ya aku berhibernasi dari blog. Bulan September kemarin menjadi bulan tersibuk buatku. 

Alasan hibernasi

Dua dari empat anak berulang tahun, ke-12 tahun dan ke-5 tahun. Si kakak yang sudah SMP sudah malu jika dirayakan dengan kue seperti adiknya. Jadilah bunda punya ide buatkan money cake. Karena penasaran lihat status instagram orang-orang kok kue ulang tahunnya bisa diisi uang (obsesi bundanya kali ya. Hahaha). Alhamdulillah pas kebetulan ada salah satu orang tua murid teman TK anakku bisa membuatkan kuenya. Dan money cake kesampaian! Walaupun dirayakan secara sederhana saja di rumah dengan keluarga inti. Karena memang tradisi kami tidak merayakan ulang tahun besar-besaran, lebih diajarkan untuk saling berbagi dengan teman-teman yang kurang beruntung. Nah si kakak kebetulan ada kegiatan “Parent Teacher” dimana ayah yang bertugas menjadi guru di kelas kakak tepat di haru ulang tahunnya. Jadi setelah selesai berbagi pengalaman mengenai profesi ayah di kelas, kakak berbagi nasi kuning ke teman-teman dan guru-guru. Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar, khidmat dan berkah. 

Kakak dan kuenya 

Kamis, 25 Agustus 2022

Berhati-hati dengan kejahatan siber

 Hai Sobat,

Sebagai ibu dengan 4 orang anak tentu aku harus memiliki perencanaan keuangan demi kelangsungan pendidikan anak-anak. Suami mempercayakan tabungan pendidikan anak-anak kepadaku. Jadi harus aku kelola dengan baik. Menurut pemikiranku, tempat teraman menyimpan uang adalah di bank, entah dalam bentuk tabungan, deposito, reksa dana atau yang lain. Karena tabungan pendidikan sifatnya jangka panjang jadi kujadikan deposito atau investasi lain daripada tabungan biasa. Untuk instansi perbankan, aku mempercayakan pada Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai BUMN nomor satu karena selain pelayanannya yang baik, juga tidak banyak potongan biaya, baik itu menyimpan dalam bentuk tabungan britama maupun deposito. Dan juga produk serta program-program yang ditawarkan masuk di semua lapisan masyarakat. Seperti contoh tabungan Simpedes, Britama, Junio. 

Produk dan Program Bank BRI masuk di semua lapisan (Pic: dok.pribadi)

Produk yang dimiliki oleh Bank BRI

Beberapa produk yang aku sebutkan tadi, seperti Simpedes, Britama dan Junio akan kucoba bandingkan beberapa perbedaannya. Yuk disimak.

1. Simpedes yang artinya Simpanan Masyarakat Pedesaan, sudah jelas segmennya masyarakat pedesaan. 
Ada 2 jenis yaitu Simpedes dan Simpedes TKI.

2. Britama, merupakan re-branding dari Simaskot (Simpanan Masyarakat Perkotaan). Targetnya pasti masyarakat yang tinggal di kota. 
Jenisnya beragam, diantaranya Britama, Britama Bisnis, Britama Valas, Britama TKI dan Britama Muda.

3. Setoran awal Simpedes lebih kecil dari Britama.
Simpedes 100.000, Britama dibedakan menjadi dua jenis kartu, yakni Classic dengan setoran awal 250.000 dan Gold dengan setoran awal 500.000.

4. Biaya administrasi bulanan, kartu dan bunga Britama lebih mahal dibanding Simpedes. Biaya administrasi Simpedes 5.500/bulan, Britama 11.000-12-000/bulan. Biaya kartu Britama Classic 2.500/bulan, Gold 6.500/bulan, Simpedes 1.500/bulan.

5. Biaya tutup rekening Britama lebih mahal dibanding Simpedes. Britama dikenakan 50.000, Simpedes 25.000. Tetapi untuk penggantian buku rusak sama-sama dikenakan 25.000.

6. Tabungan Simpedes dikenakan denda jika saldo di bawah minimum per bulan. Saldo minimum atau saldo mengendap Simpedes dan Britama sama, sebesar 50.000. Tetapi untuk Simpedes jika saldo di bawah 50.000 dikenakan denda sebesar 5.000/bulan.

Bagiku poin yang penting, BRI memiliki program tabungan Junio yang klop dengan tujuanku menabung untuk pendidikan anak-anak. Memiliki tabungan untuk anak, bahkan sejak usia 0 tahun sudah bisa mendapat tabungannya. Jika usia anak antara 0-12 tahun, nantinya nama anak dicantumkan di belakang nama orang tua sebagai pemilik rekening tabungan Junio tersebut. Dan di kartu ATM tertera nama anak, jadi anak berasa memiliki buku tabungannya sendiri dan belajar bertanggung jawab atas tabungan yang dimilikinya.

Tabungan Junio untuk anakku (Pic: FB Bank BRI)

Sabtu, 09 Juli 2022

Berlibur ke Kota Ukir, Jepara

Hi sobat!

“Libur tlah tiba…libur tlah tiba…hore…hore…hore.”

Penggalan lagu dari Tasya sering didengar saat musim libur sekolah seperti sekarang.

Anak-anak pun mulai sering menanyakan liburan kemana saja, diisi kegiatan apa. Tidak jauh berbeda dengan liburan tahun-tahun sebelumnya saat pandemi. Lebih banyak di rumah saja dan les-les seperti biasa saat mereka sekolah. 

Mengatasi rasa jenuh dan bosan anak-anak selama liburan, aku mengusulkan untuk short vacation. Short karena memang benar-benar short dalam waktu dan tujuan. Tujuan dekat kota Semarang, waktunya hanya sehari semalam, 21-22 Juni 2022. Aku pilih tujuan Jepara. Alasannya? Karena anak-anak belum pernah ke arah sana. Setelah mendapat persetujuan dari suami, langsung saja aku cari info tentang penginapan, transportasi yang akan digunakan dan tempat wisata.

Ikon Kota Jepara (Kompasiana.com)


Sekilas info mengenai Kota Jepara

Kabupaten Jepara terletak di Pantura Timur Jawa Tengah yang bagian barat dan utaranya dibatasi oleh laut. Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat permukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah.

Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu ketenarannya hingga ke luar negeri. Namun sentra perdagangannya terlekat di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Pemuda. Selain itu, Jepara merupakan kota kelahiran pahlawan wanita Indonesia R.A. Kartini.


Berdasarkan pengalaman perjalanan sebelumnya, aku memutuskan menyewa Hi Ace lagi. Selain nyaman, semua barang bawaan dan penumpang masuk semua tanpa ribet dengan bagasi mobil yang kecil. Tapi sayangnya Hi Ace yang kusewa saat ke Jogja sudah full booked, jadi harus mencari alternatif lainnya. Harganya lumayan mahal dibanding sebelumnya. Sewa unit mobil+driver+BBM Rp 1.550.000/hari. Belum termasuk tol, makan dan ongkos menginap driver yang dipatok Rp 150.000/malam.


Baca juga : Sepenggal kisah di Jogja 


Perjalanan menuju Jepara

Sebelum ke Jepara, aku dan suami memutuskan wisata religi terlebih dahulu. Karena start perjalanan pagi hari sekira pukul 6.20, jika langsung menuju Jepara masih terlalu pagi untuk cek in dan tempat wisata seputaran Jepara tidak terlalu banyak. Alhamdulillah niat yang sudah lama pernah terbersit akhirnya kesampaian juga justru tanpa rencana. 

First destination is Demak, Kota Wali. Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga tujuan pertama kami mengenalkan Walisongo ke anak-anak.

Masjid Agung Demak

Setelah makam Sunan Kalijaga kami menuju ke Kudus, Kota Kretek. Kami mengunjungi Menara Kudus dan naik menuju makam Sunan Muria. Hanya saja anak-anak tidak sampai ke Sunan Muria karena jalannya harus ditempuh dengan ojek. Sewa ojek PP Rp 30.000. 

Menara Kudus

Setelah Kudus langsung tancap gas menuju Jepara. Sebelum menuju penginapan, kami makan siang di sekitar pesisir pantai Bandengan. Sayangnya aku lupa namanya karena tidak merekomendasikan. Waktu tunggu makanan matang bisa dua jam! Fiuh! Tapi alhamdulillah rasa makanan lumayan bisa dirasakan, jadi mengobati kekecewaan kami setelah menunggu makanan berjam-jam lamanya.


Menginap dengan fasilitas private beach dan private pool

Setelah keliling-keliling, akhirnya menuju ke penginapan. Menurut info yang kudapat, sekarang banyak penginapan di Jepara yang menawarkan privat beach. Jadi pengunjung pantai tidak banyak dan bisa puas bermain di pantai. Setelah googling beberapa hotel dan villa, aku memutuskan menginap di Coconut Lodge Resort dan memilih villa dengan privat pool, supaya anak-anak puas berenang.

IG: Coconut Lodge Resort

Untuk villa yang kusewa ini dibanderol Rp 2.600.000 dengan fasilitas 2 kamar tidur, swimming pool dan area makan. Karena hotelnya termasuk baru, jadi masih bersih tempatnya. Hanya saja menu breakfast hanya beberapa, seperti nasi goreng untuk menu javanese, kentang, sosis, telur untuk menu western. Dan disiapkan sesuai pesanan, bukan prasmanan. 

Pengalaman menginap di villa lumayan menegangkan. Entah kenapa listrik sering mati di villa kami. Saat dikonfirmasi ke petugas resort katanya baru kali ini terjadi. Padahal aku juga tidak membawa peralatan listrik kecuali charger handphone. Sebagai permintaan maaf, pihak resort memberi kami 2 loyang pizza. Alhamdulillah, rejeki. 

Puas berenang di privat pool

Kolam renang umum untuk semua pengunjung Resort

Selain bermain di pool, kami juga bermain di pantai. Anak-anak puas bermain pasir. Tapi sayang sekali, airnya agak keruh dan kotor. Banyak batu-batu kerikil juga. Jadi saat terinjak kaki cukup menyakitkan dan bisa luka.


Pantai Demeling yang ada di depan Coconut Lodge Resort

Meski hanya menginap semalam tetapi terpuaskan karena anak-anak bisa bermain di pantai dan berenang sepuas mereka sampai waktu cek out villa.

Penutup perjalanan

Setelah cek out, kami menuju ke Museum Kartini sebentar lalu menuju ke pantai Kartini yang khas dengan ikon penyu raksasa. Kami hanya singgah sebentar karena sudah capek. 

Berfoto di depan penyu raksasa


Perjalanan kembali ke Semarang kami mampir makan soto di Kudus. Sampai di Demak, perjalanan agak tersendat selain padat juga jalanan terkena imbas rob, banjir.

Yang penting anak-anak happy dan menikmati perjalanan. Semoga next aku bisa berbagi cerita perjalanan lagi yaaa.

Sampai jumpaaaa, sobat!










Senin, 27 Juni 2022

Yuks Semangat Nge-blog lagi!

 Hi Sobat!

Lamaaa sekali rasanya aku ga update blog. 

“Katanya blogger? Tapi kok males nge-blog?”

Kalimat yang langsung menohok di hati. Tapi ini justru jadi pemacu untuk menyelesaikan tulisan terakhirku yang masih terbengkalai. Dan kemudian justru muncul ide/ide baru untuk tulisan. Terima kasih kuucapkan untuk kakak-kakak di Gandjel Rel yang “memecut” aku lagi untuk update blog. Hehehe. Tema yang diberikan pun pas dengan kondisiku yang suka tiba-tiba males ngeblog atau buntu ide.


Beberapa alasan yang membuatku males nge-blog diantaranya :

1. Kesibukan mengurus anak-anak dengan berbagai kegiatan akhir tahunnya, persiapan pernikahan adikku, bla bla bla alasan lainnya

2. Sibuk dengan kegiatan rumah tangga.

3. Sibuk dengan social media, ini yang sering menyita waktu. Niat hati hanya ingin membuka wa, siapa tahu ada pesan penting yang harus dijawab saat itu, tapi akhirnya jadi berlarut-larut dengan membuka aplikasi lainnya.

Sebenarnya aku sudah punya beberapa draft yang kutulis dengan tema yang berbeda-beda. Tetapi karena kesibukan sehari-hari yang kadang juga tidak jelas, terbengkalai lah draft itu. Mau meneruskan ide yang awalnya mengalir deras kok tiba-tiba menguap. Mencari ide baru belum ketemu juga. Akhirnya aku merasa draft yang sudah kubuat seperti kadaluwarsa dan tidak layak di posting. Mungkin ini salah satu ketidakpercayaan diriku ya?! Atau mood yang suka datang dan pergi tanpa diundang?

Lalu gimana mengatasi mood itu ya?

1. Kupecut semangatku untuk mencoba menulis apa saja yang terlintas saat itu.

2. Ikut lomba blog, menang kalah aku tak peduli. Karena ini sarana aku belajar dan terus menggali ilmu tentang literasi dan trik-trik memenangkan lomba dengan membaca blog para pemenang. Aku terbilang gaptek dan masih harus belajar banyak tentang cara menulis yang menarik juga menghias blog. 

3. Mencari teman yang memiliki semangat tinggi menulis sehingga menularkan semangatnya padaku.

4. Kembali meluruskan niat saat awal nge-blog aku ingin bisa berbagi pengalaman dan menularkan semangat dan ilmu yang kudapat ke generasiku selanjutnya. 


Bagaimanapun aku akan terus berusaha menulis meski harus melawan rasa malas demi sebuah karya yang akan dikenang dan diingat orang lain, terutama anak-anakku. Alangkah senangnya jika hidup ini menjadi manfaat bagi orang lain dan menjadi penebar kebaikan. Aamiin.

Yuk sobat saling menyemangati dalam kebaikan!

Sabtu, 25 Juni 2022

Ampun macetnya mudik lebaran 2022!

 Hi Sobat!

Alhamdulillah Ramadhan 1443H sudah kita lalui. Semoga berkah Ramadhan tak berhenti setelah usai merayakan Idul Fitri. Tadarus AlQuran, solat malam, puasa sunnah, bersedekah tetap dipertahankan hingga dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan sehat dengan selali berharap limpahan berkah dan rahmat dari Allah Subhanahuwata’ala.

Dua tahun kita tidak merayakan Idul Fitri dengan tradisi silaturahmi secara langsung. Adanya pandemi memaksa kita untuk stay at hom, mengurangi intensitas keluar rumah dan berkerumun. Jadi silaturahmi dilakukan via online. Ada sisi positif dan negatif dari silaturahmi online ini. Sisi positifnya kita bisa “bertemu” dengan sanak saudara dari luar kota, bahkan luar provinsi sekaligus karena jumlah peserta zoom atau Google meeting tak terbatas. Sedangkan sisi negatif pastinya silaturahmi kurang menyentuh di hati, terutama anak-anak generasi milenial dan generasi pandemi yang belum pernah merasakan seninya sungkeman, saling bermaafan, berkumpul saudara yang jarang ditemui yang kelak akan menjadi cerita untuk generasi berikutnya. 

Alhamdulillah program vaksin pemerintah sudah mencapai target dan vaksin booster juga sudah dilakukan, sehingga tahun 2022 ini kita bisa merayakan lebaran bersama orang-orang tersayang. Daaan, apa yang terjadi di mudik lebaran kali ini? Dimana-mana terjadi kemacetan! Sepertinya lebaran tahun ini benar-benar jadi ajang temu kangen antar saudara dan antar teman. Setiap jalan provinsi padat dengan kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua.

Kemacetan yang terjadi saat mudik lebaran

Aku yang biasanya ke Klaten mengunjungi mertua menempuh perjalanan Semarang-Klaten hanya dua jam, saat mudik kemarin 2x lipat! Parahnya lagi, aku lupa membawa bekal nasi putih untuk anak-anak selama di perjalanan. Karena aku berpikirnya pas jam makan siang sudah sampai di tujuan dan biasanya ibu mertua sudah menyiapkan hidangan untuk kami, jadi aku hanya membawa sayur yang dimasak sejak pagi. Suami yang sudah lama tak merasakan macet pun jadi gelisah karena perjalanan yang tak kunjung menemui titik akhir, alias sampai tujuan.

Empat jam perjalanan bagiku yang membawa empat orang anak terasa sangat membosankan. Tapi saat menyadari bahwa suasana seperti ini yang kami nantikan sejak dua tahun yang lalu serta membayangkan serunya berkumpul bersama saudara dan keponakan membuatku semangat lagi untuk membuat suasana kembali ceria. Alasan kami memilih Kartasura dibanding Jatinom karena jalannya lebih lebar dan bayangan kami tidak sebanyak itu volume mobil dan motor yang ada. Selain pasrah dan banyak berdoa, aku mencoba segala cara supaya anak-anak tidak mengganggu selama masih terjebak macet, untuk menjaga stabilitas emosi suami yang menyetir. Hehehe. Alhamdulillah lampu merah yang menjadi biang kerok kemacetan daerah Kartasura terlewati. Dan sampai di rumah mertua dengan selamat. 

Akhirnya bisa berkumpul setelah menerjang kemacetan

Minggu, 10 April 2022

Tips packing persiapan mudik keluarga besar

 Hai Sobat!

Siapa nih yang sudah tak sabar ingin segera mudik? Bertemu orang tua/sanak saudara/handai taulan setelah dua tahun tidak diperbolehkan mudik saat Lebaran. Meski sudah diperbolehkan, jangan lupa prokes tetap dijalankan ya. Dan bagi yang belum vaksin booster, bisa segera vaksin supaya saat mudik tidak harus swab atau pcr dahulu. Ga sulit kan syarat untuk mudik?

Nah, untuk keluarga dengan anggota lebih dari tiga orang pasti H-5 sudah prepare berbagai kebutuhan untuk mudik. Entah itu pakaian, mainan anak-anak, obat-obatan maupun oleh-oleh. Sering ya kita lihat di terminal, stasiun atau bandara, para pemudik kebanyakan membawa beberapa dus untuk oleh-oleh keluarga. Tidak hanya 1-2 dus tapi bisa berdus-dus! 

Ilustrasi mudik (pic.internet)


Sabtu, 05 Maret 2022

Marhaban Ya Ramadhan, 2022

 Hai Sobat!

Tak terasa sudah memasuki bulan Sya’ban yang artinya sebentar lagi Ramadhan. Sudahkah kita lunas hutang puasa tahun lalu? Segera ya sobat hutangnya dilunasin supaya ga numpuk. Yang sudah lunas bolehlah ya pemanasan dengan puasa sunnah supaya ga kaget saat memasuki Ramadhan. Tahun ini adalah tahun ketiga pandemi. Semoga lebaran tahun ini dalam kondisi yang lebih baik dan kita bisa merasakan lagi silaturahmi yang sebenarnya dengan sanak saudara. Bukan silaturahmi virtual seperti tahun-tahun sebelumnya.

wenylia.blogspot.com

Di bulan Ramadhan, setiap keluarga pasti memiliki kebiasaan masing-masing. Ada keluarga yang mewajibkan sahur dan berbuka bersama di rumah hingga Solat Tarawih berjamaah, ada yang memiliki jadwal buka bersama diluar bersama rekan atau kerabat dan ada juga yang berbagi bersama di panti asuhan selama bulan Ramadhan. Semua kegiatan semata-mata dilakukan untuk mendapat berkah, rahmat dan pahala yang berlipat dari Allah SWT. 

Bagiku, ibu dengan 4 orang anak yang usianya variatif, 11 tahun, 9 tahun, 4 tahun dan 20 bulan pastinya Ramadhan disambut meriah. Untuk anak pertama dan kedua sudah terbiasa puasa sehari full sejak usia 4 tahun. Anak ketiga dan keempat, laki-laki, aktif sekali, semoga bisa mulai diajarkan berpuasa. Biasanya saat proses belajar, start puasa setelah adzan subuh sampai jam 9 pagi berbuka. Lanjut puasa lagi sampai jam 12 siang. Setelah buka, lanjut puasa lagi sampai jam 3. Dan lanjut puasa lagi setelah makan sampai waktunya berbuka bersama. Jadwal seperti ini dicoba selama seminggu. Jika sekiranya sudah penyesuaian, minggu berikutnya dicoba puasa mulai dari  adzan subuh sampai jam 12 (puasa bedug) selama seminggu lagi. Jika memungkinkan minggu ketiga sampai akhir Ramadhan sudah bisa full puasa sehari. Alhamdulillah anak-anak semangat belajar puasa dan patuh dengan jadwal yang dibuat. 

“Yang penting tugas orangtua terus support anak supaya tetap semangat belajar berpuasa. Jika mulai kendor, ceritakan kisah orang-orang terdahulu maupun perjuangan mereka yang kurang beruntung, demi sesuap nasi harus bekerja keras dalam keadaan perut yang lapar serta dahaga. Insyaallah anak bisa memahami apa yang kita sampaikan. Reward juga bisa diberikan jika anak  berhasil menyelesaikan puasa full sebulan.”